Senin, 25 Juli 2011

hadist tentang saling meminta maaf


 Dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita bergaul pasti sering terjadi silang pendapat, miskomunikasi atau hal-hal lain yang dapat menyakitkan perasaan orang lain. Kita juga pasti sering melakukan kesalahan kepada orang lain baik disadari maupun tidak disadari. Mungkin kata-kata kita, mungkin perbuatan kita, atau diam kita bagaikan pisau tajam yang menusuk langsung ke perasaan orang lain. Mungkin kita juga menuduh orang lain tanpa bukti, atau perbuatan-perbuatan yang lainnya.
            Jika kita menyadari hal itu, maka sebaiknya kita bersegera meminta maaf kepada yang bersangkutan dengan tulus dan ikhlas. Meminta maaf bukan pekerjaan yang mudah. Mungkin kita sudah menyadari kesalahan kita, tapi untuk minta maaf alangkah beratnya. Ada perasaan malu, gengsi dan sebagainya. Jika kedudukan kita lebih muda, lebih rendah kelas sosialnya, lebih rendah kedudukannya, kita mungkin akan lebih mudah meminta maaf, meskipun masih juga terasa berat. Apalagi ketika kita status sosialnya lebih tinggi, lebih tua, atau merasa memiliki kelebihan, maka akan lebih sulit lagi untuk meminta maaf.
            Menunda-nunda minta maaf itu akan membuat hati kita gundah gulana, tidak tenang dan selalu gelisah. Perasaan bersalah akan selalu mengikuti kemana kita pergi walau di luar tampak tidak terjadi apa-apa. Perasaan itu dapat membuat kita stress, membuat perilaku kita kurang terkontrol, membuat perkataan kita kurang terkontrol dan akhirnya dapat mengganggu kesehatan kita, baik lahir maupun batin. Obatnya hanya satu yaitu minta maaf. Memang, tidak bersedianya minta maaf selain karena sombong atau gengsi, juga dikarenakan takut permintaan maaf kita tidak diterima malah mungkin akan menerima caci maki. Apapun resikonya, kita harus berani meminta maaf atas segala kesalahan kita kepada orang lain. Dengan hati tegar dan bersih mari kita langkahkan kaki untuk meminta maaf.
            Mari kita perhatikan hadist di bawah ini:
 “Tidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (Riwayat Abu Daud).
            Jadi kita tidak usah takut resiko meminta maaf, sebab jika kita sudah meminta maaf maka kita justru terbebas  dari dosa karena kita tidak minta maaf. Dimaafkan atau tidak, kita telah mengaku bersalah dan meminta maaf. Permintaan maaf ini meskipun tidak dimaafkan akan membuat hati kita tenang dan bebas dari rasa gelisah, yang dapat mengurangi stress dan tentu saja akan mengurangi terkena penyakit karenanya.
Seorang mu’min adalah bersaudara, sehingga ketika terjadi perselisihan hendaklah bersegera berdamai, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 10-12 sbb:

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, oleh karena itu adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman! Jangan ada satupun kaum merendahkan kaum lain, sebab barangkali mereka (yang direndahkan) itu justru lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan janganlah ada perempuan merendahkan perempuan lainnya, sebab barangkali mereka (yang direndahkan) itu lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan jangan kamu mencela diri-diri kamu; dan jangan kamu memberi gelar dengan gelar-gelar (yang tidak baik) –misalnya fasik– sebab seburuk-buruk nama ialah fasik sesudah dia itu beriman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak sangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa; dan jangan kamu mengintai (menyelidiki cacat orang lain); dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya, apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaramu padahal kamu tidak menyukainya? Takutlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah maha menerima taubat dan belas-kasih.” (al-Hujurat: 10-12)
Kewajiban anda ketika ada orang  meminta maaf, hendaknya kita memaafkan kesalahan orang tersebut. Rasulullah bersabda:
“Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, ‘Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.’” (HR Thabrani)
Suatu hari raut wajah Rasululah tampak berseri-seri. Tak lupa beliau menampakkan senyumnya sampai kelihatan kilau gigi putihnya. Maka Umar bertanya ada apa gerangan. “Kulihat ada dua orang dari ummatku yang mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla. Yang satu berkata, ‘Ya Rabby, hukumlah orang ini yang telah mengambil hak dan menganiayaku di dunia.’ Lalu Allah memerintahkan kepada si zhalim tersebut agar mengembalikan haknya.
‘Ya Rabbi,’ kata si zhalim, ‘aku tidak lagi memiliki simpanan perbuatan baik yang bisa menggantikan haknya.’
‘Dia sudah tidak memiliki sisa-sisa perbuatan baik untuk menggantimu, lalu apa yang kau harapkan darinya?’ kata Allah kepada satunya. ‘Ya Rabbi, pindahkan kepadanya dosa-dosaku. Biar dia yang memikulnya,’ katanya.”
              Tiba-tiba air mata Rasulullah mengalir membasahi pipinya karena mengenang hari-hari yang maha dahsyat itu. Beliau berkata, “Hari itu adalah hari-hari yang maha dahsyat, hari di mana setiap orang berusaha untuk melepaskan setiap beban dosa yang dipikulnya.”
“Kemudian Allah berkata kepada si teraniaya, ‘Wahai Fulan, angkat pandanganmu dan lihatlah surga-surga yang tersedia.’
‘Ya Rabbi, saya lihat negeri-negeri yang terbuat dari perak dan istana-istana dari emas yang terhias indah dengan mutiara-mutiara yang berkilauan. 
Apakah semua itu kau persiapkan untuk Nabi dan Rasul-Mu, para siddiqin dan orang-orang yang syahid?’ ‘Tidak,’ kata Allah. ‘Semua itu Kusiapan bagi siapa saja yang sanggup membelinya.’
‘Siapakah mereka ya Rabbi?’
‘Engkau juga mampu memilikinya.’
‘Bagaimana caranya?’
‘Dengan memaafkan saudaramu itu.’
‘Kalau begitu, aku maafkan dia ya Rabbi.’
‘Ambillah tangan saudaramu itu dan masuklah kalian ke dalam surga yang Kujanjikan.’”
Kemudian Nabi mengakhiri kisah ini dengan pesan sabdanya, “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan berbuat baiklah dalam hubungan antar sesama. Sungguh Allah swt akan mendamaikan antara orang-orang yang beriman kelak pada hari kiamat.”
            Memberi maaf kepada orang yang telah melukai hatinya lebih berat daripada meminta maaf. Pekerjaan ini jauh lebh berat lagi, apalagi untuk sebuah kesalahan yang menggores di hati. Kadang dendam itu dibawa sampai mati. Hanya orang-orang tertentu saja yang sanggup melakukannya. Dalam ajaran Islam, ketika seseorag dizhalimi, maka ada dua hak baginya. Hak yang pertama adalah membalas setimpal dengan perbuatannya. Hak kedua adalah memaafkannya. Jika dipilih alternatif pertama, maka balasan itu tidak boleh lebih berat, walaupun kepada musuh-musuh Islam. Ummat Islam dilarang membalas secara melampaui batas

Kapan waktu meminta maaf (kepada orang lain) dan meminta ampun (kepada Allah)?
Jawabnya setiap saat. Sesegera mungkin setelah kita menyadari kesalahan kita.Allah SWT berfirman :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang , Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Ali Imran : 133-134)

Dalam persoalan meminta maaf ada hal yang perlu kita perhatikan. Dalam hubungan antar manusia, jika seseorang melakukan kesalahan dan tidak meminta maaf, maka Allah tidak akan memberi ampun kepada kita.
Mari kita coba intropeksi ke dalam diri kita sendiri. Mari kita jujur kepada diri sendiri sekali saja, apakah kita sudah berani membuka pintu hati kita untuk memberi maaf? Yakinkan bahwa kita adalah orang yang mampu memberi maaf dengan tulus kepada seseorang yang meminta maaf? Jika belum, berarti kita harus meminta maaf pada diri kita sendiri. Dengan menjadi seseorang yang terbuka pikirannya, segala pikiran buruk pasti tidak akan ada. Prasangka, curiga, apalagi menuduh sesuatu semua pasti tersingkir. Oleh sebab itu,  kita lihat niat baik seseorang setelah dia menjalaninya saja. Sebelum terlihat, kita justru harus mendukungnya. Kita pernah menjadi sasaran kedengkian, kekejaman, kemarahan orang lain. Lalu apa itu membuat kita balik marah atau dengki atau kejam. Lantas, apa bedanya kita dengan mereka? Guys, selain kita sama dengan sifat-sifat nggak berguna itu, kita hanya ngerugiin diri sendiri. Alangkah jauh lebih baik kalau kita menjadi orang yang tulus, ikhlas, dan rela dengan semua yang terjadi. Yang penting itu kita berusaha untuk terhindar dari hal-hal buruk tadi.

Kapan batas waktu kita saling berdiam diri?                                         
Sabda Rasulullah s.a.w“Tidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (Riwayat Abu DauRasulullah s.a.w.: “Pintu-pintu sorga akan dibuka pada hari Isnin dan Khamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (Riwayat Muslim).

            Apa yang harus kita lakukan ketika kita menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan dan dosa?
1. Meminta ampun dan melakukan taubat nasuha (taubat dengan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut), namun sebagai manusia kadang kita kembali lupa lalu melakukan dosa lagi, maka kita diharuskan kembali meminta ampun. Kondisi seperti ini sudah dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an :
[3:135] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Ayat serupa terdapat dalam 7:153, 4:110.
2. Selain meminta ampun kepada Allah, kita juga diwajibkan meminta maaf kepada orang lain atas kesalahan kita terhadap mereka. Al-Qur’an mengajarkan bahwa memberi maaf atas kesalahan orang lain adalah suatu keutamaan :
[4:149] Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa. Perintah memberi maaf juga terdapat dalam 5:13, 15:85, 42:37.
3. Dalam kondisi kita sudah meminta ampun kepada Allah, sudah berusaha untuk meminta maaf kepada sesama manusia, maka selanjutnya tindakan kita adalah memperbanyak amal saleh kita dan menjauhi perbuatan dosa, gunanya ketika sampai waktunya hari penghakiman, saat amal baik dan dosa kita ditimbang, kita ada dalam kondisi ’surplus’ amal baik. Permintaan maaf seseorang bukan berarti bahwa apa yang kita lakukan sebelumnya bebas dari sangsi. Misalnya, seorang koruptor, setelah mohon ampun dan meminta maaf kepada masyarakat ia kemudian bersih kembali. Ada tata caranya. Ia juga harus mengembalikan hasil korupsinya. Disamping itu, perbuatan korupsi harus diberi sangsi sesuai dengan hokum yang berlaku, sebagi pelajaran bagi diri mantan koruptor dan bagi orang lain.
4. Pertanyaan muncul : bagaimana kalau ketiga hal tersebut sudah dilakukan, namun ternyata kita masih ‘tekor’ di akherat? Perlu diketahui bahwa segala perbuatan kita punya ‘harga yang pantas’ diakherat nanti, tidak ada dari perbuatan kita yang luput dari penilaian Allah :
[4:40] Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.  Ayat serupa terdapat dalam 99:7
Ketika pahala anda ternyata tidak cukup ‘mengkompensasikan’ dosa yang anda perbuat maka keadilan Tuhan akan menjebloskan anda ke neraka. Setelah itu, anda akan dimasukkan ke dalam surga.
Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sungguh, aku benar-benar tahu penghuni neraka yang keluar terakhir dari sana dan penghuni surga yang terakhir masuk ke dalamnya, yaitu seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak. 
Lalu Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia pun mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga telah penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga. Dia mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh. Maka ia kembali dan berkata: Ya Tuhanku, aku temukan surga itu penuh. Allah berfirman: Pergilah, masuklah ke dalam surga, karena sesungguhnya menjadi milikmu semisal dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau, sesungguhnya bagimu sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata: Apakah Engkau mengejekku (atau menertawakanku), sedangkan Engkau adalah Raja? Abdullah bin Masud berkata: Aku benar-benar melihat Rasulullah saw. tertawa sampai kelihatan gigi geraham beliau. Dikatakan: Itu adalah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya. (dari Shahih Bukhari jilid IV.
Membangun sikap mental pemaaf bukanlah perkara yang mudah. Munculnya kualitas pribadi pemaaf membutuhkan proses panjang dan pembinaan diri terus menerus. Maaf dan memaafkan biasannya terkait dengan telah tersakitinya harga diri dan fisik kita oleh orang lain. Merupakan watak khas manusia dan mungkin sebagian besar makhluk hidup lainnya, bahwa mereka cenderung tidak suka disakiti. Orang – orang yang matang dan sehat jiwanya akan memiliki perilaku yang dikendalikan oleh pertimbangan akalnya yang sehat. Sebaliknya banyak pula orang yang gagal atau belum mampu menggunakan sumber daya akalnya secara maksimal, sehingga seluruh hidupnya di kendalikan oleh hawa nafsu dan instingnya saja. Kecenderungan nafsu yang gemar dengan hal – hal yang mengenakkan dan memuaskan diri, kalau tidak diimbangi dengan kemampuan akal untuk menghasilkan pertimbangan yang sehat akan menjerumuskan manusia pada perilaku rendah yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan.
Manusia yang perilaku hidupnya didominasi pertimbangan nafsu, akan sangat kesulitan untuk memberikan maaf kepada orang yang mungkin bersalah kepadanya. Dalam pikiran mereka,alangkah tidak logisnya, ketika disakiti dan dirugikan kemudian diminta memberikan maaf begitu saja tanpa membalasnya padahal kemampuan untuk melakukan pembalasan sangatlah mungkin. Dengan demikian, membangun sikap pemaaf dalam diri kita mutlak membutuhkan pengendalian hawa nafsu dan kemampuan memanfaatkan akal secara maksimal.
Memaafkan sebenarnya cermin dari keanggunan jiwa manusia. Kesiapan untuk memberi maaf akan mendorong orang tersebut pada posisi yang lebih terhormat dalam lingkaran pergaulan sosialnya. Memaafkan merupakan sikap hidup yang bukan saja terpuji, tetapi juga memiliki dampak positif bagi munculnya kondisi psikologis yang sehat bagi siapapun yang melakukannya. Patut diketahui bahwa kegagalan kita dalam memberitakan permaafan kepada orang lain, sebenarnya saat itu batin kita tengah dirasuki oleh sifat pendendam yang sangat merusak. Menyimpan dendam dihati, sama artinya dengan menyimpan racun dalam tubuh kita. Rasa dendam yang menggumpal dalam diri akan mengakibatkan hilangnya sifa riang, yang pada gilirannya menghilangkan kesegaran dan gairah hidup positif. Manusia yang memiliki dendam, gairah dan energi hidupnya hanya akan terfokus kepada upaya pembalasan dendam. Padahal hidup terlalu indah untuk tidak dimanfaatkan untuk hal – hal lain yang lebih positif. Dengan memberi maaf sebenarnya kita sedang menghilangkan beban di hati dan menghilangkan beban dosa bagi orang yang berbuat kesalahan, sehingga memberi maaf akan menempatkan kita pada posisi yang lebih terhormat dan mengundang penghormatan.
Dalam kehidupan sosial dan politik, pemaafan mengandung empat dimensi dan langkah penting:
Pertama, pemaafan hendaknya dimulai dengan ingatan yang disertai penilaian moral. Dalam persepsi umum, pemaafan cenderung dipahami sebagai melupakan kesalahan dan kejahatan individu atau kelompok. Sebenarnya pemaafan berarti “mengingat” dan sekaligus memaafkan. Dalam Islam, proses ini disebut muhasabah, yakni saling “menghitung” atau “menimbang” peristiwa-peristiwa yang melukai pihak-pihak tertentu. Melalui muhasabah, berbagai pihak melakukan introspeksi dan sekaligus penilaian moral terhadap kejadian-kejadian yang merugikan perorangan maupun masyarakat banyak.
Kedua, memutuskan restitusi, kompensasi atau ganti rugi, atau hukuman yang harus dijatuhkan kepada para pelaku kesalahan atau kejahatan. Pemaafan dalam kehidupan sosial dan politik atau dalam hubungan antarmanusia lainnya, tidak mesti menghapuskan segala bentuk hukuman. Meski masih terdapat hukuman, pemaafan mestilah menghentikan semangat pembalasan dendam. Hal ini mengandung makna bahwa pemaafan tidaklah berarti menghilangkan proses hukum.
Ketiga, mengembangkan sikap empati terhadap realitas kemanusiaan pelaku kejahatan; bahwa setiap manusia biasa dapat terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan yang merugikan masyarakat. Tidak ada jaminan, seseorang tidak akan terjerumus ke dalam kesalahan atau kenistaan. Pengakuan tentang kelemahan kemanusiaan ini merupakan sikap empati yang mendorong pemaafan.
Keempat, mengembangkan pemahaman bahwa pemaafan yang tulus bertujuan memperbarui hubungan antarmanusia. Jadi, pemaafan bukan sekadar aktualisasi sikap moral bernilai tinggi yang berdiri sendiri, tetapi juga bertujuan untuk perbaikan (ishlah) hubungan antarmanusia yang bisa diselimuti kebencian dan dendam. Dengan kandungan mulia ini, pemaafan juga berarti kesiapan hidup berdampingan secara damai di antara manusia-manusia yang berbeda dengan segala kelemahan dan kekeliruan masing-masing.

2 komentar:

  1. semoga kita mudah memaafkan kesalahan orang lain.

    BalasHapus
  2. terima kasih atas artikelnya, sangat membantu saya dalam mengerjakan tugas :)

    BalasHapus